Sabtu, 20 Oktober 2012

Ikhwan Sejati


Ikhwan sejati bukan dilihat dari suaranya yang lantang
Tetapi dilihat dari kelembutannya mengatakan kebenaran
Ikhwan sejati bukan dilihat dari bahuanya yang kekar
Tetapi dilihat dari kasih sayangnya kepada orang-orang disekelilingnya
Ikhwan sejati bukan dilihat dari dadanya yang berbidang
Tetapi dilihat dari hati yang ada dibaliknya
Ikhwan sejati bukan dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya
Tetapi dilihat dari sikap bersahabatnya
Ikhwan sejati bukan dilihat dari banyaknya akhwat yang memujo
Tetapi dilihat dari komitmennya terhadap akhwat yanng dicintainya
Ikhwan sejati bukan dilihat dari suaranya yang lantang


Akhwat Sejati

Sebuah renungan untuk para akhwat tetrmasuk diri saya sendiri

Akhwat sejati bukan dilihat dari jilbabnya yang anggun
Tetapi dilihat dari kedewasaannya bersikap
Akhwat sejati bukan dilihat dari retorikanya saat aksi
Tetapi dilihat dari kebijaksanannya dalam mengambil keputusan
Akhwat sejati bukan dilihat dari banyaknya ia berorganisasi
Tetapi dilihat dari seberapa besar tanggung jawabnya dalam menjalankan amanah
Akhwat sejati bukan dilihat dari kehadirannya di syuro
Tetapi dilihat daro kontribusinya dalam memcari solusi suatu permasalahan
Akhwat sejati bukan dilihat dari isi tasnya yang selalu membawa Al-Qur'an
Tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya terhadap isi Al-Qur'an
Akhwat sejati bukan dilihat dari aktivitasnya yang seabrek
Tetapi dilihat bagaimana ia mampu mengoptimalkan waktu dengan baik
Akhwat sejati bukan dilihat dari kepimtarannya dalam hal pelajaran
Tetapi dilihat dari bagaimana ia mamou mengamalkan ilmu yang ia punya
Akhwat sejati bukan dilihat dari tundukan matanya
Tetapi dilihat dari bagaimana oa mampu membentengi hatinya
Akhwat sejati bukan dilihat dari partisipasinya dalan menjalankan kegiatan
Tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam menjalankannya
Akhwat sejati bukan dilihat dari shalatnya yang lama
Tetapi dilihat dari sejauhmana kedekatannya terhadap Rabb diluar aktivitas shalatnya
Akhwat sejati bukan dilihat dari kasih sayangnya terhadap orant tua dan teman-temannya
Tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cintanya pada Ar-Rahman dan Ar-Rahim
Akhwat sejati bukan dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya
Tetapi dilihat dari seberapa banyak tetesan air matanya ketika sujud
Akhwat sejati bukan dilihat dari kecantikan parasnya
Tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada dibaliknya
Akhwat sejati bukan dilihat dari  bentuk tubuhnya yang mempesona 
Tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menutupi bentuk tubuhnya
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang ia berikan
Tetapi dilihat dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya
Tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa
Tetapi dilihat dari bagaimana  cara ia berbicara
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian
Tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu mempertahankan kehormatannya
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya di doga orang di jalan
Tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa banyak dan besarnya cobaan yang ia jalani
Tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi cobaan itu dengan penuh kesabaran dan rasa syukur
Dan ingatlah ...... Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul
Tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.
Seomga bermanfaat :) 

Tanpa Judul


Siang itu …selesai shalat dzuhur  ia dan Qanita berjalan menuju sebuah tempat diadakannya syuro. Detak jatung keduanya tampak terlihat dari derap langkah kakinya. Sampai disana mereka menemui beberapa pasang mata yang tampak sekali berbeda, jantungnya semakin tak menentu dan tubunhyapun sempat terpaku beberapa saat didepan pintu sebuah ruangan itu. Mereka berdua sudah menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Dilangkahkannya kaki kecil itu secara perlahan kedalam ruangan yang tidak cukup besar namun mampu menampung puluhan pasang mata. Tanpa nalar, entah mengapa jemari – jemari Syabila melemah, sekedar untuk mengepalkan tangan saja ia tak sanggup, disandarkannya kepala Syabila pada sebuah  meja usang di hadapannya, terengah-engah nafas sambil bertatap muka dengan dedaunan yang mengintipnya dari jendala.

Syuro terus berjalan … dilihatnya detik demi detik sebuah jam dinding yang tampak kokoh jauh dihadapannya. Berharap waktu cepat berganti. Qanita, sahabat yang sangat dicintainya itu, terus menerus memberikan isyarat bahwa sahabatnya itu merasa tidak nyaman. Kata demi kata keluar dari masing-masing insan. Suasana didalam ruangan yang biasanya sejuk itupun, tiba-tiba seakan angin tak tampak terasa. “Audzubillahiminasyaithanirojim” berkali-kali hanya lafadz ini yang terus ia ucapkan… Butiran air yang tertahan di pelupuk mata Syabila, mengisyaratkan betapa perihnya kesedihan yang menyayat didalam dadanya. Jiwanya seperti ingin ia hempaskan keudara, menari diantara awan-awan putih yang tampak tenang. Ia mencoba mengalihkan itu semua dengan canda semu, ia tersenyum seolah-olah dirinya baik-baik saja. Pelan – pelan dalam diam ia merintih memanggil nama Sang Khalik, menceritakan dengan tertatih-tatih semua yang terjadi padanya.
Ia tak boleh terus terdiam,  iapun mulai bergerak, berusaha mengucapkan sepatah dua patah kata apa adanya. Namun , belum sempat ia merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang utuh seketika butiran air mata itupun tumpah tak tertahan. Disekanya air mata itu. Lagi-lagi ia tetunduk, menjerit dalam diam, seluruh tubuhnya seketika membisu, kata-kata yang sudah terangkai di pikirannya tak mampu ia keluarkan.

Ketika Si Merah Jambu Hadir




Sendiri di tengah kesunyian, yang ada hanya Syabila dan daun-daun berguguran. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan senja tiba, langit terang menderang berselimut jingga diufuk barat. Kilauan cahayanya membangunkan Syabila dari tempat duduknya, ia pun cepat-cepat beranjak pergi dan mencari sebuah masjid.

Sambil menunggu maghrib tiba, di rumah Sang Khalik , Syabila kembali termenung, terbayang-bayang dengan apa yang ia alami saat ini. “Allahu Akbar……Allahu Akbar......"Kumandang merdu sang muazin. Menyerukan seluruh umat muslim untuk menunaikan salah satu kewajiban-Nya yaitu shalat.
Selesai shalat, dengan wajah yang masih berkilaukan air wudhu, Syabila bersimpuh dihadapan Sang Ilahi Rabb, memohon ampun atas perasaan yang ia rasakan saat ini.
“Ya Allah, kali ini aku merasakan cinta yang berbeda pada seorang hamba-Mu yang shaleh. Setiap kali berjumpa dengannya, dada ini selalu berdebar tak menentu. Dibalik setiap tundukan mata ini, ku lafadzkan istighfar memohon ampun pada-Mu. Sungguh bukan harapan untuk selalu ingin bertemu dengannya yang ada didiri ini, melainkan rasa ingin menghindar dan menjauh.
Aku tahu, bahwa hakikatnya cinta ini fitrah. Namun, sungguh rasa dalam hati, bahwa aku takut jika hati ini tidak mampu menjaganya agar tetap menjadi fitrah.
Ku serahkan semua rasa ini pada-Mu karena hanya Engkau Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Mu. Kini tiada hal yang lebih tepat selain hanya mencintainya dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan keikhlasan, dan ku biarkan agar cinta ini pupus ditelan oleh waktu.”
“Ya Allah Jika aku jatuh cinta
Cintakan aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada Mu
Agar bertambah kekuatanku untuku mencintai-Mu
Ya Muahimin Jika aku jatuh hati
Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tidak terjatuh pada jurang cinta nafsu
Ya Rabbana Jika aku jatuh hati
Jagalah hatiku padanya
Agar tida berpaling daripada hati-Mu
Ya Rabbul Izzati Jika aku rindu
Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu”
Itulah do’a yang terurai dari hati Syabila disetiap hembusan nafasnya saat bersujud dihadapan Sang Rabb. Kekuatan benteng hatinya harus tetap ia jaga agar anti virus merah jambu yang ia miliki tidak dapat di hancurkan oleh si VMJ itu….

Metamaorfoself



Cahaya itu telah membukakan hati Syabila. Membawanya pada sebuah keputusan dan perubahan dahsyat dalam hidup. Pada saat awal ia harus mengambil sebuah keputusan besar itu , baginya sangat tidaklah mudah, ia harus berperang dingin dengan batinnya sendiri. Namun, dengan niat yang lurus dan tekad yang kuat  ia mecoba untuk mengambil sebuah keputusan besar itu ……bismillah.

Kini Syabila mulai meninggalkan segala aktivitas kejahiliyahannya dulu, dalam segala hal ia mulai memperbaiki dirinya, baik dari penampilannya, pergaulan, hingga perilakunya. Awal menjalani kehidupan barunya, banyak aral yang merintang menghampirinya. Mulai dari protes dan kritik pedas yang ia dapat dari orang-orang sekelilingnya bahkan cemoohan pun  ia terima.
Hatinya bergejolak, ia sempat terseok-seok dengan apa yang orang-orang katakan padanya mengenai semua perubahan yang ada didalam dirinya, mulai dari protes ia dikatakan seperti orang sombong lantaran ia begitu menjaga jarak dengan lawan jenis, bahkan sampai cemoohan orang-orang yang mengatakan bahwa ia seperti ibu-ibu pengajianpun, padahal niatnya hanya ingin memenuhi kewajiban sebagai seorang perempuan muslimah yang menutupi aurat.
Sungguh kala itu ia terombang-ambing bagaikan sebuah kapal di tengah-tengah badai, hatinya merasa tercekam ketika menapaki setiap jalan dan menaiki anak tangga. Kesabaran dan keistiqamahannya pun terus diuji. Air mata tak henti menangis dalam hatinya. Tanganpun rasanya tak ingin ia hentikan untuk terus mengusap dadanya.
Ketika perubahan itu sudah melekat dalam dirinya. Ada hal lain yang mencoba merobohkan benteng keistiqamahanny. Cinta, virus pink itu bagaikan bom waktu yang siap kapan saja dapat meledak. Berbulan-bulan ia berusaha melawan virus itu, mulai dari ia berguru pada sebuah buku sampai ia bertanya pada murabbi, dan Alhamdulillah melalui ikhtiar dan istkharahnya, ia mendapat petunjuk dan kemudahan untuk mendapatkan anti virus pink tersebut.
Kini cahaya Ilahi Rabb, telah membawa perubahan dahsyat dalam hidupnya. Ia pun tak lantas merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan, karena ia merasa bahwa yang ada pada dirinya saat ini tak ada apa-apanya. “Aku bersyukur Allah sangat mencintaiku, Ia membukakan cahaya hidayahNya pada setiap hembusan nafasku.  Aku harus selalu berusaha istiqamah dalam mencari ridha Sang Khalik. Yaa Allah Alhamdulillah terimakasih atas segala kenikmatan yang Engkau berikan untukku.” ucap Syabila dengan segala rasa syukurnya.

Kamis, 18 Oktober 2012

Assalamu'alaykum

Assalamu'alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuhu

Kayfa Haluki sobat ? Setelah sekian lama vakum akhirnya ana bisa kembali berkecimbung di blog juga hehe. Oh iya merasa ada yang berbedakah dengan blogku ?
hmphhh iya  iya betul ...... blogku semuanya serba baru lohhhhhhh hehehe.
Mau sedikit cerita nih.. Jadi selama ini aku lupa dengan password blogku. Awalnya aku udah pasrah 
aja deh, gak mau ngeblog lagi...... Tapi tiba-tiba dikelas teman-teman pada demam nge-blog .. hmppphhh menghela nafas panjang-panjang deh...
Mumpung lagi bawa laptop, coba - coba dulu deh nge-sign blog. Baru aja sampai laman pertama... udah dibuat pusing gara-gara password.. heuuuuuuuhhhh benar-benar lupa. Grasak-grusuk deh muterin otak .....
Tiba-tiba, ada sesosok gadis cantik menghampiriku (sebut ; Nata) semoga ndak GE-ER yaaaa hihihihi. Tanpa basa-basi dia langsung mengambil alih laptopku, dan diutak-atiklah...
Tidak sampai berjam-jam akhrinya 1..2..3....4....5....(eh jadi belajar menghitung) loadingnya lamaaaaaa banget daaaaaaaan taraaa Alhamdulillah kembalilah blogku ini.... he he he