Siang itu …selesai
shalat dzuhur ia dan Qanita berjalan
menuju sebuah tempat diadakannya syuro. Detak jatung keduanya tampak terlihat
dari derap langkah kakinya. Sampai disana mereka menemui beberapa pasang mata
yang tampak sekali berbeda, jantungnya semakin tak menentu dan tubunhyapun
sempat terpaku beberapa saat didepan pintu sebuah ruangan itu. Mereka berdua
sudah menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Dilangkahkannya kaki
kecil itu secara perlahan kedalam ruangan yang tidak cukup besar namun mampu
menampung puluhan pasang mata. Tanpa nalar, entah mengapa jemari – jemari
Syabila melemah, sekedar untuk mengepalkan tangan saja ia tak sanggup, disandarkannya
kepala Syabila pada sebuah meja usang di
hadapannya, terengah-engah nafas sambil bertatap muka dengan dedaunan yang
mengintipnya dari jendala.
Syuro terus berjalan
… dilihatnya detik demi detik sebuah jam dinding yang tampak kokoh jauh
dihadapannya. Berharap waktu cepat berganti. Qanita, sahabat yang sangat
dicintainya itu, terus menerus memberikan isyarat bahwa sahabatnya itu merasa
tidak nyaman. Kata demi kata keluar dari masing-masing insan. Suasana didalam
ruangan yang biasanya sejuk itupun, tiba-tiba seakan angin tak tampak terasa. “Audzubillahiminasyaithanirojim” berkali-kali
hanya lafadz ini yang terus ia ucapkan… Butiran air yang tertahan di pelupuk
mata Syabila, mengisyaratkan betapa perihnya kesedihan yang menyayat didalam
dadanya. Jiwanya seperti ingin ia hempaskan keudara, menari diantara awan-awan
putih yang tampak tenang. Ia mencoba mengalihkan itu semua dengan canda semu,
ia tersenyum seolah-olah dirinya baik-baik saja. Pelan – pelan dalam diam ia
merintih memanggil nama Sang Khalik, menceritakan dengan tertatih-tatih semua yang
terjadi padanya.
Ia tak boleh terus
terdiam, iapun mulai bergerak, berusaha
mengucapkan sepatah dua patah kata apa adanya. Namun , belum sempat ia
merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang utuh seketika butiran air mata
itupun tumpah tak tertahan. Disekanya air mata itu. Lagi-lagi ia tetunduk,
menjerit dalam diam, seluruh tubuhnya seketika membisu, kata-kata yang sudah
terangkai di pikirannya tak mampu ia keluarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar