Sabtu, 20 Oktober 2012

Tanpa Judul


Siang itu …selesai shalat dzuhur  ia dan Qanita berjalan menuju sebuah tempat diadakannya syuro. Detak jatung keduanya tampak terlihat dari derap langkah kakinya. Sampai disana mereka menemui beberapa pasang mata yang tampak sekali berbeda, jantungnya semakin tak menentu dan tubunhyapun sempat terpaku beberapa saat didepan pintu sebuah ruangan itu. Mereka berdua sudah menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Dilangkahkannya kaki kecil itu secara perlahan kedalam ruangan yang tidak cukup besar namun mampu menampung puluhan pasang mata. Tanpa nalar, entah mengapa jemari – jemari Syabila melemah, sekedar untuk mengepalkan tangan saja ia tak sanggup, disandarkannya kepala Syabila pada sebuah  meja usang di hadapannya, terengah-engah nafas sambil bertatap muka dengan dedaunan yang mengintipnya dari jendala.

Syuro terus berjalan … dilihatnya detik demi detik sebuah jam dinding yang tampak kokoh jauh dihadapannya. Berharap waktu cepat berganti. Qanita, sahabat yang sangat dicintainya itu, terus menerus memberikan isyarat bahwa sahabatnya itu merasa tidak nyaman. Kata demi kata keluar dari masing-masing insan. Suasana didalam ruangan yang biasanya sejuk itupun, tiba-tiba seakan angin tak tampak terasa. “Audzubillahiminasyaithanirojim” berkali-kali hanya lafadz ini yang terus ia ucapkan… Butiran air yang tertahan di pelupuk mata Syabila, mengisyaratkan betapa perihnya kesedihan yang menyayat didalam dadanya. Jiwanya seperti ingin ia hempaskan keudara, menari diantara awan-awan putih yang tampak tenang. Ia mencoba mengalihkan itu semua dengan canda semu, ia tersenyum seolah-olah dirinya baik-baik saja. Pelan – pelan dalam diam ia merintih memanggil nama Sang Khalik, menceritakan dengan tertatih-tatih semua yang terjadi padanya.
Ia tak boleh terus terdiam,  iapun mulai bergerak, berusaha mengucapkan sepatah dua patah kata apa adanya. Namun , belum sempat ia merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang utuh seketika butiran air mata itupun tumpah tak tertahan. Disekanya air mata itu. Lagi-lagi ia tetunduk, menjerit dalam diam, seluruh tubuhnya seketika membisu, kata-kata yang sudah terangkai di pikirannya tak mampu ia keluarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar