Cahaya itu telah membukakan hati Syabila. Membawanya pada
sebuah keputusan dan perubahan dahsyat dalam hidup. Pada saat awal ia harus
mengambil sebuah keputusan besar itu , baginya sangat tidaklah mudah, ia harus
berperang dingin dengan batinnya sendiri. Namun, dengan niat yang lurus dan
tekad yang kuat ia mecoba untuk
mengambil sebuah keputusan besar itu ……bismillah.
Kini Syabila mulai meninggalkan segala aktivitas
kejahiliyahannya dulu, dalam segala hal ia mulai memperbaiki dirinya, baik dari
penampilannya, pergaulan, hingga perilakunya. Awal menjalani kehidupan barunya,
banyak aral yang merintang menghampirinya. Mulai dari protes dan kritik pedas
yang ia dapat dari orang-orang sekelilingnya bahkan cemoohan pun ia terima.
Hatinya bergejolak, ia sempat terseok-seok dengan apa
yang orang-orang katakan padanya mengenai semua perubahan yang ada didalam
dirinya, mulai dari protes ia dikatakan seperti orang sombong lantaran ia begitu
menjaga jarak dengan lawan jenis, bahkan sampai cemoohan orang-orang yang
mengatakan bahwa ia seperti ibu-ibu pengajianpun, padahal niatnya hanya ingin
memenuhi kewajiban sebagai seorang perempuan muslimah yang menutupi aurat.
Sungguh kala itu ia terombang-ambing bagaikan sebuah
kapal di tengah-tengah badai, hatinya merasa tercekam ketika menapaki setiap
jalan dan menaiki anak tangga. Kesabaran dan keistiqamahannya pun terus diuji.
Air mata tak henti menangis dalam hatinya. Tanganpun rasanya tak ingin ia
hentikan untuk terus mengusap dadanya.
Ketika perubahan itu sudah melekat dalam dirinya. Ada hal
lain yang mencoba merobohkan benteng keistiqamahanny. Cinta, virus pink itu
bagaikan bom waktu yang siap kapan saja dapat meledak. Berbulan-bulan ia
berusaha melawan virus itu, mulai dari ia berguru pada sebuah buku sampai ia
bertanya pada murabbi, dan Alhamdulillah melalui ikhtiar dan istkharahnya, ia
mendapat petunjuk dan kemudahan untuk mendapatkan anti virus pink tersebut.
Kini cahaya Ilahi Rabb, telah membawa perubahan dahsyat
dalam hidupnya. Ia pun tak lantas merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan,
karena ia merasa bahwa yang ada pada dirinya saat ini tak ada apa-apanya. “Aku
bersyukur Allah sangat mencintaiku, Ia membukakan cahaya hidayahNya pada setiap
hembusan nafasku. Aku harus selalu
berusaha istiqamah dalam mencari ridha Sang Khalik. Yaa Allah Alhamdulillah
terimakasih atas segala kenikmatan yang Engkau berikan untukku.” ucap Syabila
dengan segala rasa syukurnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar